Pati Unus

Asalamualaikum

Nama asli beliau Raden Abdul Qadir putra Raden Muhammad Yunus dari Jepara. Raden Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400-an masehi. Silsilah Syekh ini yang bernama lengkap Abdul Khaliq Al Idrus bin Syekh Muhammad Al Alsiy (wafat di Parsi) bin Syekh Abdul Muhyi Al Khayri (wafat di Palestina) bin Syekh Muhammad Akbar Al-Ansari (wafat di Madina) bin Syekh Abdul Wahhab (wafat di Mekkah) bin Syekh Yusuf Al Mukhrowi (wafat di Parsi) merupakan keturunan cucu Nabi Muhammad generasi ke 19, beliau memiliki ibu Syarifah Ummu Banin Al-Hasani (keturunan Imam Hasan bin Fathimah binti Nabi Muhammad) dari Parsi (dari Catatan Sayyid Bahruddin Ba’alawi tentang ASYRAF DI TANAH PERSIA, di tulis pada tanggal 9 September 1979)

, Sayyidus Syuhada Imam Husayn (Qaddasallohu Sirruhu) putra Imam Besar Sayyidina Ali bin Abi Talib Karromallohu Wajhahu dengan Sayyidah Fatimah Al Zahra.

Setelah menetap di Jepara, Syekh Khaliqul Idrus menikah dengan putri seorang Muballigh asal Gujarat yang lebih dulu datang ke tanah Jawa yaitu dari keturunan Syekh Mawlana Akbar, seorang Ulama, Muballigh dan Musafir besar asal Gujarat, India yang mempelopori dakwah diAsia Tenggara. Seorang putra beliau adalah Syekh Ibrahim Akbar yang menjadi Pelopor dakwah di tanah Campa (di delta Sungai Mekong, Kamboja) yang sekarang masih ada perkampungan Muslim. Seorang putra beliau dikirim ke tanah Jawa untuk berdakwah yang dipanggil dengan Raden Rahmat atau terkenal sebagai Sunan Ampel. Seorang adik perempuan beliau dari lain Ibu (asal Campa) ikut dibawa ke Pulau Jawa untuk ditawarkan kepada Raja Brawijaya sebagai istri untuk langkah awal meng-Islam-kan tanah Jawa.

Raja Brawijaya berkenan menikah tapi enggan terang-terangan masuk Islam. Putra yang lahir dari pernikahan ini dipanggil dengan nama Raden Patah. Setelah menjadi Raja Islam yang pertama di beri gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Disini terbukalah rahasia kenapa beliau Raden Patah diberi gelar Alam Akbar karena ibunda beliau adalah cucu Ulama Besar Gujarat Syekh Mawlana Akbar yang hampir semua keturunannya menggunakan nama Akbar seperti Ibrahim Akbar, Nurul Alam Akbar, Zainal Akbar dan banyak lagi lainnya.

Kembali ke kisah Syekh Khaliqul Idrus, setelah menikah dengan putri Ulama Gujarat keturunan Syekh Mawlana Akbar lahirlah seorang putra beliau yang bernama Raden Muhammad Yunus yang setelah menikah dengan seorang putri pembesar Majapahit di Jepara dipanggil dengan gelar Wong Agung Jepara. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra yang kemudian terkenal sangat cerdas dan pemberani bernama Abdul Qadir yang setelah menjadi menanntu Sultan Demak I Raden Patah diberi gelar Adipati bin Yunus atau terkenal lagi sebagai Pati Unus yang kelak setelah gugur di Malaka di kenal masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor.

Setelah Raden Abdul Qadir beranjak dewasa di awal 1500-an beliau diambil mantu oleh Raden Patah yang telah menjadi Sultan Demak I. Dari Pernikahan dengan putri Raden Patah, Abdul Qadir resmi diangkat menjadi Adipati wilayah Jepara (tempat kelahiran beliau sendiri). Karena ayahanda beliau (Raden Yunus) lebih dulu dikenal masyarakat, maka Raden Abdul Qadir lebih lebih sering dipanggil sebagai Adipati bin Yunus (atau putra Yunus). Kemudian hari banyak orang memanggil beliau dengan yang lebih mudah Pati Unus.

Dari pernikahan ini beliau diketahui memiliki 2 putra. Ke 2 putra beliau yang merupakan cucu-cucu Raden Patah ini kelak dibawa serta dalam expedisi besar yang fatal yang segera merubah nasib Kesultanan Demak.

Sehubungan dengan intensitas persaingan dakwah dan niaga di Asia Tenggara meningkat sangat cepat dengan jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511, maka Kesultanan Demak mempererat hubungan dengan kesultanan Banten-Cirebon yang juga masih keturunan Syekh Mawlana Akbar Gujarat. Karena Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah adalah putra Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Mawlana Akbar, sedangkan Raden Patah seperti yang disebut dimuka adalah ibundanya cucu Syekh Mawlana Akbar yang lahir di Campa. Sedangkan Pati Unus neneknya dari pihak ayah adalah juga keturunan Syekh Mawlana Akbar.

Hubungan yang semakin erat adalah ditandai dengan pernikahan ke 2 Pati Unus, yaitu dengan Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511. Tak hanya itu, Pati Unus kemudian diangkat sebagai Panglima Gabungan Armada Islam membawahi armada Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon, diberkati oleh mertuanya sendiri yang merupakan Pembina umat Islam di tanah Jawa, Syekh Syarif Hidayatullah bergelar Sunan Gunung Jati. Gelar beliau yang baru adalah Senapati Sarjawala dengan tugas utama merebut kembali tanah Malaka yang telah jatuh ke tangan Portugis. Gentingnya situasi ini dikisahkan lebih rinci oleh Sejarawan Sunda Saleh Danasasmita di dalam Pajajaran bab Sri Baduga Maharaja sub bab Pustaka Negara Kretabhumi.

Tahun 1512 giliran Samudra Pasai yang jatuh ke tangan Portugis. Hal ini membuat tugas Pati Unus sebagai Panglima Armada Islam tanah jawa semakin mendesak untuk segera dilaksanakan. Maka tahun 1513 dikirim armada kecil, ekspedisi Jihad I yang mencoba mendesak masuk benteng Portugis di Malaka tapi gagal dan balik kembali ke tanah Jawa. Kegagalan ini karena kurang persiapan menjadi pelajaran berharga untuk membuat persiapan yang lebih baik. Maka direncanakanlah pembangunan armada besar sebanyak 375 kapal perang di tanah Gowa, Sulawesi yang masyarakatnya sudah terkenal dalam pembuatan kapal.

Di tahun 1518 Raden Patah, Sultan Demak I bergelar Alam Akbar Al Fattah mangkat, beliau berwasiat supaya mantu beliau Pati Unus diangkat menjadi Sultan Demak berikutnya. Maka diangkatlah Pati Unus atau Raden Abdul Qadir bin Yunus, Adipati wilayah Jepara yang garis nasab (Patrilineal)-nya adalah keturunan Arab dan Parsi menjadi Sultan Demak II bergelar Alam Akbar At-Tsaniy.

Memasuki tahun 1521, ke 375 kapal telah selesai dibangun, maka walaupun baru menjabat Sultan selama 3 tahun Pati Unus tidak sungkan meninggalkan segala kemudahan dan kehormatan dari kehidupan keraton bahkan ikut pula 2 putra beliau (yang masih sangat remaja) dari pernikahan dengan putri Raden Patah dan seorang putra lagi (yang juga masih sangat remaja) dari seorang seorang isteri,anak kepada Syeikh Al Sultan Saiyid ISMAIL, PULAU BESAR, dengan risiko kehilangan segalanya termasuk putus nasab keturunan, tapi sungguh Allah membalas kebaikan orang-orang yang berjuang di jalannya.

Armada perang Islam siap berangkat dari pelabuhan Demak dengan mendapat pemberkatan dari Para Wali yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati. Armada perang yang sangat besar untuk ukuran dulu bahkan sekarang. Dipimpin langsung oleh Pati Unus bergelar Senapati Sarjawala yang telah menjadi Sultan Demak II. Dari sini sejarah keluarga beliau akan berubah, sejarah kesultanan Demak akan berubah dan sejarah tanah Jawa akan berubah.

Armada perang Islam yang sangat besar berangkat ke Malaka dan Portugis pun sudah mempersiapkan pertahanan menyambut Armada besar ini dengan puluhan meriam besar pula yang mencuat dari benteng Malaka.

Kapal yang ditumpangi Pati Unus terkena peluru meriam ketika akan menurunkan perahu untuk merapat ke pantai. Ia gugur sebagai Syahid karena kewajiban membela sesama Muslim yang tertindas penjajah (Portugis) yang bernafsu memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Sebagian pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis, karena itu sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat di tahun 1521 ini . Melalui situs keturunan Portugis di Malaka (kaum Papia Kristang) hanya terdapat kegagahan Portugis dalam mengusir armada tanah jawa (expedisi I) 1513 dan armada Johor dalam banyak pertempuran kecil.

Armada Islam gabungan tanah Jawa yang juga menderita banyak korban kemudian memutuskan mundur dibawah pimpinan Raden Hidayat, orang kedua dalam komando setelah Pati Unus gugur. Satu riwayat yang belum jelas siapa Raden Hidayat ini, kemungkinan ke-2 yang lebih kuat komando setelah Pati Unus gugur diambil alih oleh Fadhlulah Khan (Tubagus Pasai) karena sekembalinya sisa dari Armada Gabungan ini ke Pulau Jawa , Fadhlullah Khan alias Falathehan alias Fatahillah alias Tubagus Pasai-lah yang diangkat Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati sebagai Panglima Armada Gabungan yang baru menggantikan Pati Unus yang syahid di Melaka.

Kegagalan expedisi jihad yang ke II ke Malaka ini sebagian disebabkan oleh faktor – faktor internal, terutama masalah harmoni hubungan kesultanan – kesultanan Indonesia

Putra pertama dan ketiga Pati Unus ikut gugur, sedangkan putra kedua, Raden Abdullah dengan takdir Allah untuk meneruskan keturunan Pati Unus, selamat dan bergabung dengan armada yang tersisa untuk kembali ke tanah Jawa. Turut pula dalam armada yang balik ke Jawa, sebagian tentara Kesultanan Malaka yang memutuskan hijrah ke tanah Jawa karena negerinya gagal direbut kembali dari tangan penjajah Portugis. Mereka orang Melayu Malaka ini keturunannya kemudian membantu keturunan Raden Abdullah putra Pati Unus dalam meng-Islam-kan tanah Pasundan hingga dinamai satu tempat singgah mereka dalam penaklukan itu di Jawa Barat dengan Tasikmalaya yang berarti Danau nya orang Malaya (Melayu).

Sedangkan Pati Unus, Sultan Demak II yang gugur kemudian disebut masyarakat dengan gelar Pangeran Sabrang Lor atau Pangeran (yang gugur) di seberang utara. Pimpinan Armada Gabungan Kesultanan Banten, Demak dan Cirebon segera diambil alih oleh Fadhlullah Khan yang oleh Portugis disebut Falthehan, dan belakangan disebut Fatahillah setelah mengusir Portugis dari Sunda Kelapa 1527. Di ambil alih oleh Fadhlullah Khan adalah atas inisiatif Sunan Gunung Jati yang sekaligus menjadi mertua karena putri beliau yang menjadi janda Sabrang Lor dinikahkan dengan Fadhlullah Khan.

Dengan selamatnya putra Pati Unus yang kedua yaitu Raden Abdullah, maka sungguh Allah hendak melestarikan keturunan para Syahid, seperti yang terjadi pada pembantaian cucu nabi Muhammad, Imam Husain dan keluarganya ternyata keturunan beliau justru menjadi berkembang besar dengan selamatnya putra beliau Imam Zaynal Abidin. Bukan kebetulan pula bila Pati Unus pun seperti yang disebut diatas adalah keturunan Imam Husayn cucu Nabi Muhammad SAW, karena hanya Pahlawan besar yang melahirkan Pahlawan besar.

Ketika armada Islam mendaratkan pasukan Banten di teluk Banten, Raden Abdullah diajak pula untuk turun di Banten untuk tidak melanjutkan perjalanan pulang ke Demak. Para komandan dan penasehat armada yang masih saling berkerabat satu sama lain sangat khawatir kalau Raden Abdullah akan dibunuh dalam perebutan tahta mengingat sepeninggal Pati Unus, sebagian orang di Demak merasa lebih berhak untuk mewarisi Kesultanan Demak karena Pati Unus hanya menantu Raden Patah dan keturunan Pati Unus (secara patrilineal) adalah keturunan Arab seperti keluarga Kesultanan Banten dan Cirebon, sementara Raden Patah adalah keturunan Arab hanya dari pihak Ibu sedangkan secara patrilineal (garis laki-laki terus menerus dari pihak ayah, Brawijaya) adalah murni keturunan Jawa (Majapahit).

Kebanggaan Orang Jawa sebagai orang Jawa walaupun sudah menerima Islam berbeda dengan sikap orang Pasundan setelah menerima Islam berkenan menerima Raja mereka dari keturunan Arab seperti Sultan Cirebon Sunan Gunung jati dan putranya Sultan Banten Mawlana Hasanuddin. Kebanggaan orang Jawa sebagai bangsa yang punya identitas sendiri, dengan gugurnya Pati Unus, membuka kembali konflik lama yang terpendam dibawah kewibawaan dan keadilan yang bersinar dari Pati Unus. Kisah ini nyaris mirip dengan gugurnya Khalifah umat Islam ketiga di Madinah, Umar bin Khattab yang segera membuka kembali konflik lama antara banyak kelompok yang sudah lama saling bertikai di Mekah dan Madinah.

Sedangkan di tanah Jawa, sejak Islam merata masuk hingga pelosok dibawah kepeloporan kesultanan Demak pada akhirnya timbul persaingan antara kaum Muslim Santri di pesisir dengan Muslim Abangan di pedalaman yang berakibat fatal dengan perang saudara berkelanjutan antara Demak, Pajang dan Mataram.

Sebagian riwayat turun temurun menyebutkan Pangeran Yunus (Raden Abdullah putra Pati Unus) ini kemudian dinikahkan oleh Mawlana Hasanuddin dengan putri yang ke III, Fatimah. Tidak mengherankan, karena Kesultanan Demak telah lama mengikat kekerabatan dengan Kesultanan Banten dan Cirebon. Selanjutnya pangeran Yunus yang juga banyak disebut sebagai Pangeran Arya Jepara dalam sejarah Banten, banyak berperan dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (adik ipar beliau) sebagai penasehat resmi Kesultanan . Dari titik ini keturunan beliau selalu mendapat pos Penasehat Kesultanan Banten , seperti seorang putra beliau Raden Aryawangsa yang menjadi Penasehat bagi Sultan Banten ke III Mawlana Muhammad dan Sultan Banten ke IV Mawlana Abdul Qadir.

Ketika penaklukan Kota Pakuan terakhir 1579, Raden Aryawangsa yang masih menjadi Panglima dalam pemerintahan Sultan Banten ke II Mawlana Yusuf (yang juga paman beliau sendiri karena Ibunda beliau adalah kakak dari Mawlana Yusuf yang dinikahi Raden Abdullah putra Pati Unus) mempunyai jasa besar, sehingga diberikan wilayah kekuasaan Pakuan dan bermukim hingga wafat di desa Lengkong (sekarang dekat Serpong). Raden Aryawangsa menikahi seorang putri Istana Pakuan dan keturunannya menjadi Adipati Pakuan dengan gelar Sultan Muhammad Wangsa yang secara budaya menjadi panutan wilayah Pakuan yang telah masuk Islam (Bogor dan sekitarnya), tapi tetap tunduk dibawah hukum Kesultanan Banten.

Seperti yang disebut diatas, Raden Aryawangsa kemudian lebih banyak berperan di Kesultanan Banten sebagai Penasehat Sultan, setelah beliau wafat kiprah keluarga Pati Unus kemudian diteruskan oleh putra dan cucu beliau para Sultan Pakuan Islam hingga Belanda menghancurkan keraton Surosoan di zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1683), dan membuat keraton Pakuan Islam ,sebagai cabang dari Keraton Banten, ikut lenyap dari percaturan politik dengan Sultan yang terakhir Sultan Muhammad Wangsa II bin Sultan Muhammad Wangsa I bin Raden Aryawangsa bin Raden Abdullah bin Pangeran Sabrang Lor bin Raden Muhammad Yunus Jepara ikut menyingkir ke pedalaman Bogor sekitar Ciampea.

Selain Raden Aryawangsa, Raden Abdullah putra Pati Unus juga memiliki anak lelaki lainnya yaitu yang dikenal sebagai Raden Suryadiwangsa yang belakangan lebih dikenal dengan gelar Raden Suryadiningrat yang diberikan Panembahan Senopati ketika Mataram resmi menguasai Priangan Timur pada tahun 1595.

Kehadiran putra Pati Unus di wilayah Priangan Timur ini tidak terlepas dari kerjasama dakwah antara Kesultanan Banten dan Cirebon dalam usaha meng islam kan sisa-sisa kerajaan Galuh di wilayah Ciamis hingga Sukapura (sekarang Tasikmalaya).

Raden Surya dikirim ayahnya, Raden Abdullah putra Pati Unus yang telah menjadi Penasehat Kesultanan Banten untuk membantu laskar Islam Cirebon dalam usaha peng Islaman Priangan Timur. Raden Surya memimpin dakwah (karena hampir tanpa pertempuran) hingga mencapai daerah Sukapura dibantu keturunan tentara Malaka yang hijrah ketika Pati Unus gagal merebut kembali Malaka dari penjajah Portugis. Beristirahatlah mereka di suatu tempat dan dinamakan Tasikmalaya yang berarti danaunya orang Malaya (Melayu) karena didalam pasukan beliau banyak terdapat keturunan Melayu Malaka.

Raden Surya di tahun 1580 ini di angkat oleh Sultan Cirebon II Pangeran Arya Kemuning atau dipanggil juga Pangeran Kuningan (putra angkat Sunan Gunung Jati, karena putra kandung Pangeran Muhammad Arifin telah wafat) sebagai Adipati Galuh Islam. Akan tetapi seiring dengan makin melemahnya kesultanan Cirebon sejak wafatnya Sunan Gunung Jati pada tahun 1579, maka wilayah Galuh Islam berganti-ganti kiblat Kesultanan. Pada saat 1585-1595 wilayah Sumedang maju pesat dengan Prabu Geusan Ulun memaklumkan diri jadi Raja memisahkan diri dari Kesultanan Cirebon. Sehingga seluruh wilyah Priangan taklukan Cirebon termasuk Galuh Islam bergabung ke dalam Kesultanan Sumedang Larang. Inilah zaman keemasan Sumedang yang masih sering di dengungkan oleh keturunan Prabu Geusan Ulun dari dinasti Kusumahdinata.

Sekitar tahun 1595 Panembahan Senopati dari Mataram mengirim expedisi hingga Priangan, Sumedang yang telah lemah sepeninggal Prabu Geusan Ulun kehilangan banyak wilayah termasuk Galuh Islam. Maka Kadipaten Galuh Islam yang meliputi wilayah Ciamis hingga Sukapura jatuh ke tangan Panembahan Senopati. Raden Suryadiwangsa cucu Pati Unus segera diangkat Panembahan Senopati sebagai Penasehat beliau untuk perluasan wilayah Priangan dan diberi gelar baru Raden Suryadiningrat.

Di sekitar tahun 1620 salah seorang putra Raden Suryadiningrat menjadi kepala daerah Sukapura beribukota di Sukakerta bernama Raden Wirawangsa setelah menikah dengan putri bangsawan setempat. Raden Wirawangsa kelak di tahun 1635 resmi menjadi Bupati Sukapura diangkat oleh Sultan Agung Mataram karena berjasa memadamkan pemberontakan Dipati Ukur. Raden Wirawangsa diberi gelar Tumenggung Wiradadaha I yang menjadi cikal bakal dinasti Wiradadaha di Sukapura (Tasikmalaya). Gelar Wiradadaha mencapai yang ke VIII dan dimasa ini dipindahkanlah ibukota Sukapura ke Manonjaya. Bupati Sukapura terakhir berkedudukan di Manonjaya adalah kakek dari kakek kami bergelar Raden Tumenggung Wirahadiningrat memerintah 1875-1901. Setelah beliau pensiun maka ibukota Sukapura resmi pindah ke kota Tasikmalaya.

Sumber

* Nasab silsilah Kesultanan Banten, Nasab silsilah Kesultanan Cirebon, Nasab silsilah Kesultanan Demak, Sejarah kota-kota lama Jawa Barat, Negarakerthabumi Parwa I Sargha II, Berita-berita sumber Portugis abad 15-16 (Barros, Tome Pirres, Hendrik De Lame).

DIBAWAH INI KOMENTAR TOK SYEIKH DI KARIMON’S BLOG

Asalammualaikum Semua !!!.Sebagai Permintaan sahabat sahabat yang menghubungi saya melalui Talipon, Saya tuliskan riwayat hidup Sultan Ali Alam Akbar At Tsani atau Sultan Demak 2.

PATI UNUS atau Sultan Ali Akbar At Tsani atau Sultan Demak 2. (1477-1521)

Nama asal beliau ialah Raden Abdul Qadir bin Raden Muhamad Yunus bin Syeikh Sayyid Kahaliqul Idrus.Syeikh Khaliqul Isrus berkawin dengan Syarifah Siti Aisyah binti Maulana sayyid Husin Jamadil Kubra Azmatkhan.
Nasab Pati Unus :

1. Raden Abdul Qader bin
2. Raden Mohamad Yunus bin
3. Syeikh Sayyid Khalid Al Idrus bin
4. Syeikh Sayyid Muhamad Al Asiy bin
5. Syeikh Sayyid Abdul Muhyi Al Khairi bin
6. Syeikh Sayyid Mohamad Akbar Al Ansari bin
7. Syeikh Sayyid Abdul Wahab bin
8. Syeikh Sayyid Yusof Al Mukromi bin
9. Syeikh Sayyid Al Imam Ali Al Muqaddam bin
10.Syeikh Sayyid Al Imam Ali bin
11.Syeikh Sayyid Al Imam Mohamad bin
12.Syeikh Sayyid Al Imam Mohamad Shahib Mirbat bin
13. Syeikh Sayyid Al Imam Ali Kholal Ghosam bin
14.Syeikh Sayyid Alwe bin
15.Syeikh Sayyid Mohamad bin
16.Syeikh Sayyid Alwe bin
17.Syeikh Sayyid Ubaidillah/Abdullah bin
18.Syeikh Sayyid Al Imam Abdullah Al Muhanjir bin
19.Syeikh Sayyid Mohamad Isa Al Syakaran bin
20/Syeikh Sayyid Mohamad Nasir bin
21.Syeikh Sayyid Ali Yusof bin
22.Syeikh Sayyid Mohamad Basiir bin
23.Syeikh Sayyid Al Imam Zainal Abidin bin
24.Al Syahid Al Imam Husin bin
25.Al Syahid Al Imam Ali KAW + Syadatina Siti Fatimah Az Zahra binti
26 Nabi Mohamad SAW

Ini bermakna Pati Unus seorang AHLI bAIT.

Pati Unus di lahirkan di Jepara, Jawa Barat pada tahun 1477 M. Bapa nya adalah Adipati Jepara.Bonda nya dari keturunan Kerabat Majapahit.Beliau di besarkan di Istana Jepara.

Setelah dewasa beliau di lantik menjadi Adipati Jepara.Dan di gelar Pati Unus.Pada tahun 1501 M, beliau berkhawin dengan Puteri Ratu Mas Nyawa atau Puteri Ratna Gumilah Sari binti Raden Fatah.Dari perkhawinan ini lahir lah putera lelaki iaitu Raden Abu Bakar dan Rade Abu Syahid atau Barakat.

Pada tahun 1505 M, Puteri Ratu Mas Nyawa pergi ke Pulau Besar untuk mendalami lagi Ilmu Persilatan Dan Ugama.Pesantren Pulau Besar waktu itu di ketuai olih Maulana Sayyid Tsanauden ,sebagai Ketua Ulama. Atau di kenali dengan nama besar nya Datuk Adi Putra.Antara rakan seperguruan nya ialah Sultan Mahmud Syah.Hang Tuah pada waktu itu telah menjadi Laksamana Angkatan Laut Melaka.Dan Hang Tuah ialah salah seorang Guru kepada Puteri Ratna Gumilah Sari.Selain itu, Guru Puteri ini ialah Maulana Ishaq,Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail dan Guru Wanita , Syarifah Siti Fatimah binti Maulana Sayyid Ali Nurul Alam,isteri kepada Maulana Ishaq sendiri. Semasa menuntut di Pulau Besar lah Sultan Mahmud jatuh hati dengan Puteri Ratna Gumilah Sari.Atas nasihat Para Ulama Pulau Besar, Puteri Ratna Gumilah Sari di hantar ke tempat “Semedi”, Datuk Adi Putra di Gunong Ledang.Dan sejak itu lah nama nya terkenal dengan nama Puteri Gunong Ledang.Sultan Mahmud Syah, seorang Sultan yang kaki perempuan.Beliau tidak mengira isteri orang ker atau siapa saja.Dalam Kitab Sullatus Salatin, Sultan Mahmud Syah berbuat “jahat” dengan isteri Tun Biajid.Ini menyebab kan Tun Biajid hampir mahu membunoh Sultan Mahmud Syah tetapi di larang olih Seri Nara Diraja.Begitu lah Sunah tullah, Jika seorang Pemerintah itu Zalim,Negeri nya akan Allah swt akan HANCUR kan !!!.

Pada tahun 1509 M, Portugis menyerang Melaka, tetapi Portugis kalah.Pada seranggan pertama ini maseh ada lagi Panglima Perang yang Hidop, seperti Datuk Adi Putra/Panglima Hitam.Syeikh Sultan Ariffin/Panglima Alang Hitam dan Laksamana Hang Tuah Sendiri.Melaka waktu itu, di sokong padu olih Panglima dan Ulama.Setelah Peristiwa Sultan Membunoh Bendahara Tun Mutahir, Melaka telah ketiadaan Pakar Peperangan.Kewafatan Panglima Hitam pada tahun 1510 M, ter PECAT nya Laksamana Khoja Hasan,Kewafatan Laksamana Hang Tuah, bertambah memburok kan kaadaan Melaka pada masa itu.Akhir nya Melaka jatuh di tangan Portugis pada tahun 1511 M. Sultan Mahmud Syah lari ke Pagoh,ke Kota Tinggi dan ke Kampar dan mangkat di sana.
Pada tahun 1517 M, Pati Unus yang pada waktu itu berjawatan Panglima Angkatan Laut Demak menyerang Portugis Melaka.Seranggan ini kalah.Atas nasihat Sunan Gunong Jati dan Para Ulama Melaka dan Wali Songho, Kerajaan Demak di kehendaki membena Kapal Perang yang canggih.Tugas mebina kapal Perang di berikan kepada Sultan Babulah bin Sultan Abdullah, Sultan Ternate dan Gowa.Sultan Babulah mebina 375 kapal Perang yang canggih.

Pati Unus waktu ini telah berkhawin satu lagi dengan Puteri Mas Ayu binti Sunan Gunong Jati.Perkhawinan ini tidak mendapat Zuriat.Pati Unus juga berkhawin dengan Syarifah Siti Zubaidah binti Syeikh Sultan Ariffin Sayyid Ismail bin Sayyid Abdul Qadir bin Sayyid Jabbar bin Sayyid Sholih bin Syeikh Abdul Qadir Al Jilani.Bermakna ketiga isteri Pati Unus adalah kerabat beliau sendiri.Perkhawinan ini melahir kan seorang anak lelaki iaitu Raden Abdullah Melaka atau Raden Aria Putra.

Pada tahun 1518 M, Sultan Demak 1,Sultan Ali Alam Akbar Al Fatahhillah Mangkat.Di atas nasihat Para Wali Songho, Pati Unus di lantik menjadi Sultan Demak ke 2.Beliau bergelar Sultan Ali Alam Akbar At Tsani.
Pada tahun 1521 M, dengan kekuatan 375 buah kapal Perang dan hampir 100,000 orang perajurit, di atas gabungan Jambi,Palembang, Ternate,Demak,Melaka dan Inderagiri, Pati Unus menyerang Melaka.Selama 7 bulan Tentera Gabungan ini mengepong Portugis.Tetapi Pengkhianatan berlaku !!!.Tentera Siak dan Pahang membantu Portugis Melaka.Seranggan Darat di buat dan Peluru Merian Portugis terkena kapal Pati Unus.Pati Unus cedera parah.Isteri ke 3 nya Syarifah Siti Zubaidah,Anak Pati Unus…Raden Abu Bakar dan Raden Abu Syahid/Barakat TERKORBAN SYAHID.Panglima Armada di ambil aleh olih Laksamana Khoja Hasan atau Maulana Sayyid Fadhillah Khan.Pati Unus yang sedera parah di bawa lari ke Markas Gerakan di Pulau Besar dan Baginda Syahid di Atas Pangkuan Isteri Pertama nya Puteri Gunong Ledang.Tempat Syahid Pati Unus itu adalah Di BATU LESONG !!!!.Jenazah beliau di semadikan di dalam Komplek Pemakaman Sutannul Ariffin di Pulau Besar.Dalam Komplek ini ada 7 makam dan satu nya kepunyaan Al Syahid Pati Unus !!!.Datuk ku yang GAGAH BERANI,meninggal kan Jawatan Sultan kerana MEMBURU MATI SYAHID dan Allah swt…membeli Darah nya yang Suci !!!!.Kesyahidan Pati Unus tidak menunggal kan apa apa HANYA SESATU ,ANAK NYA PENYAMBUNG ZURIAT DAN PERJUANGAN IAITU RADEN ABDULLAH !!!!.

About these ads

Perihal pakcikli00

Saya adalah dukun asmara
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Pati Unus

  1. Tok Syeikh says:

    Asalammualaikum !!!.

    Gambar Pati Unus yang tertera, memang ada banyak Persamaan nya.Walaupun itu gambar Lukisan Penulis Indonesia tetapi hampir 85 % nya Tepat.Ada dari keturunan Kami yang wajah nya Mirip Pati Unus iaitu Raden Hamzah bin Raden Osman iaitu abang kepada Raden Syarifah Normala Al Idrus.Wajah Pati Unus memang mirip Sunan Giri tetapi Wajah Pati Unus…garang sedikit, mata nya sangat tajam !!!.Apa pun saya sangat berterima kaseh banyak kepada Pakciklioo kerana, mana dia dapat gambar ini.Saya memang menunggu Gambar ini tetapi blogger Indonesia, belum hantar lagi !!!Terima Kaseh banyak banyak…terima kseh daun keladi !!!Pakciklioo !!!!.

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Terima kasih atas infonya.
    Melihat sejarah di atas, saya baru tahu bahwa tempat tinggal saya (Kuningan-Jawa Barat) ternyata memiliki hubungan sejarah dengan Malaka…

  3. Tok Syeikh says:

    Ahmad Sudrajat,Ada satu tempat di Jawa Barat yang penduduk ASAL nya ,orang Melaka iaitu bekas Prajurit dan Panglima Perang kepada Raden Abdullah bin Pati Unus.Mereka menjadi Tulang Belakang kepada Raden Abdullah dalam setiap Serangan dan pendukung kuat Raden Abdullah.Tempat itu ialah Tasik Malaya.Bukan sahaja Tasek Malaya, Jambi dan Palembang juga…Raja nya dari Melaka.Parameswara dari Palembang dan Raja yang kemudian pula dari Melaka.Senang cerita antara Palembang,Jambi,Jakarta,Jawa Barat dan Melaka…kebanyakan yang berdarah Raja…berasal dari keturunan yang SAMA !!!.

  4. jayadiwarso says:

    epara bukan jawa barat tapi jawa tengah

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s